Monday, July 30, 2007

KEPEMILIKAN ALLAH ATAS BUMI DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA

[1]
(Acuan: Mzm 24:1 dan Kej. 1:26-28)

Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya,
dan dunia serta yang diam di dalamnya
(Mzm 24:1)

IBADAH DAN GERAK KEHIDUPAN

Sepanjang sejarah ibadah Israel dan Gereja, Kitab Mazmur memainkan peran penting. Sejak semula tidak ada ibadah tanpa Mazmur, entah ibadah harian atau ibadah jemaat. Mzm 24 ini merupakan bagian mazmur dalam konteks ibadah di Bait Suci.

Mazmur ini mengandung pengakuan iman dan pujian kepada Tuhan. Dialah Tuhan yang menciptakan dan memiliki bumi bukan allah bangsa-bangsa lain. Dia adalah Tuhan segenap bumi, karena Dialah yang memiliki (juga Mzm 50:12; 89:12; 97:5)

Kepemilikan Allah dan pemeliharaanNya yang bersinambungan atas bumi dan segala isinya berulang-ulang ditegaskan dalam Alkitab. Memang kita menemukan dalam Alkitab bahwa Allah memberikan bumi kepada manusia. Misalnya, dalam Mzm 115:16 dikatakan “Langit itu langit kepunyaan Tuhan, dan bumi itu telah diberikanNya kepada anak-anak manusia”.

Tetapi harus ditegaskan bahwa Allah tidak pernah melakukan serah terima kepada manusia. Ia tidak memberikannya kepada kita sedemikian tuntas sehingga Ia sama sekali tidak punya hak dan tidak punya kontrol lagi atasnya, melainkan memberikannya kepada manusia yang adalah rekan sekerjaNya.

Dalam kotbah di Bukit Yesus mengembangkan pendominasian ilahi itu lebih luas lagi –dari makhluk yang terbesar hingga yang terkecil. Di satu pihak, Allah menerbitkan matahari (yang Ia adalah pemiliknya), dan di lain pihak Ia memberi makan kepada burung-burung, pakaian kepada bunga bakung dan mendandani rumput di padang (Mat 5:45; 6:26, 28, 30). Jadi, Ia memelihara seluruh cuiptaanNya; dengan menyerahkannya kepada kita, Ia bukannya menanggalkan kepemilikan dan tanggung jawab-Nya atasnya.

MENAKLUKKAN DAN MENGUASAI DENGAN CARA ALLAH
(Kej 1:26-28)

Kita dapat memahami mandat ‘memnguasai dan menaklukkan’ sebagaimana dalam Kej 1:26-28 dengan memperhadapkannya dengan kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya seperti disebut dalam Mzm 24. Tidak jarang, bahwa mandat menguasai dan menaklukkan dalam Kej 1 ini dipahami secara keliru sebagai ‘hak istimewa’ manusia memperlakukan alam sesuai dengan keinginan manusia. Dalam hal ini dapat disebut sedikitnya dua hal, yakni:

(1) Menguasai sebagai Gambar Allah

Keberadaan manusia sebagai gambar Allah sedikitnya mengandung pengertian bahwa:

- Manusia diberi karunia memiliki sifat-sifat Allah yang mengasihi, mencintai yang baik, mencintai kehidupan. Itu berarti bahwa dalam menaklukkan dan menguasai, manusia melakukannya atas nama Allah dan seperti cara Allah memperlakukan ciptaan-Nya.

- Manusia dianuagerahi kemampuan untuk mempertahankan ciptaan itu tetap baik sebagaimana Tuhan menciptakan dan melihatnya baik. Dalam hal ini, menguasai berarti memperlakukan ciptaanNya sedemikian rupa agar ia tetap baik sebagaimana Tuhan menghendakinya. Sebab, kalau Tuhan membenci dan menolak ibadah dan koor umat karena ketidakadilan (Amos 5), Ia tetap menerima pujian dari segala yang bernafas (Mzm 150:6).

- Keberadaan manusia sebagai gambar Allah lebih merupakan ‘tanggung jawab” istimewa bukan “hak istimewa”. Menguasai tidak dalam artian mengeksploitasi dan merusak.

- Menguasai juga berarti agar manusia jangan menyembahnya, sebab hanya Allah yang patut disembah.

Dengan adanya pengakuan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan raja yang menguasai seluruh ciptaanNya, maka tugas manusia ‘menguasai’ dan ‘mengusahai’ bumi adalah seperti cara Allah menguasainya yaitu dengan merawat dan memeliharanya.

(2) Kebutuhan Manusia

Seperti sudah disinggung, bahwa dalam Kej. 1:26 bahwa yang pertama disebut adalah manusia sebagai gambar Allah. Kemudian, diberi mandat ‘menguasai”. Urutan ini mengandung makna bahwa manusia menguasai seperti cara Allah menguasai ciptaanNya.

Memang kata-kata yang digunakan dalam bahasa Ibrani untuk “berkuasa” di sini adalah juga berarti ‘menginjak’. Misalnya, menginjak buah anggur untuk memeras sarinya. Kata ‘taklukkanlah’ juga berarti menaklukkan dalam perang. Akan tetapi amanat ‘taklukkanlah’ di sini tidak sama dengan perang terhadap alam. Sebab, tidak boleh hanya etimologi yang menjadi pertimbangan kita tetapi cara penggunaan kata-kata itu dalam konteksnya. Kekuasaan yang diserahkan Allah kepada manusia adalah bersifat pemberian yang menuntut tanggung jawab.

Salah satu yang perlu diperhatikan untuk memahami ‘menaklukkan’ dan ‘menguasai’ dalam Kej 1 ini adalah makanan manusia. Dalam ay 29: makanan adalah tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji”, tidak dalamkonteks manusia sebagai pemakan daging. Jadi, kata taklukkanlah di sini tidak dapat disamakan saja dengan konteks dunia sekarang dimana manusia memakan daging, yang malah sudah kian tanpa batas. Misalnya sudah banyak orang makan ular, anjing, kucing dan tikus.

Catatan: Untung saja apa yang kita makan tidak mempengaruhi perilaku kita. Sebab jika apa yang dimakan oleh manusia mempengaruhi perilakunya , maka orang Batak dan orang Nias pasti akan mengalami masalah yang amat serius. Sebab babi dan anjing saja (yang amat sering dilahap), sudah amat tak tertahankan dampaknya bagi kehidupan, yang satu (babi): tukang makan, tidur dan teriak saja dan yang lain (anjing) menggonggong dan menggigit –dan berbisa pula --yang pasti akan merusak kehidupan.

MASALAH KEPEMILIKAN BUMI MASAKINI

Di tengah maraknya gaya hidup konsumerisme dewasa ini, apa yang dikatakan Gandhi sangat penting dihayati, yakni “bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup untuk ketamakan setiap orang”.

Krisis lingkungan hidup merupakah salah satu dari sederet persoalan yang paling serius dewasa ini, dari tingkat nasional hingga ke tingkat global. Disebut-sebut bahwa setiap tahun hutan dunia rusak seluas wilayah Korea. Indonesia sendiri kehilangan hutannya sekitar 2,8 juta hektar setiap tahun. Sudah banyak makhluk hidup yang punah, yang diperkirakan satu spesis punah setiap hari. Masalah lebih rumit lagi karena kota Jakarta misalnya, meraih juara III sedunia di bidang pengotoran udara. (kota-kota lain seperti Medan, Surabaya dan lain-lain kurang lebih sama dengan kondisi Jakarta).

Masyarakat Indonesia banyak yang sudah menanggung derita akibat berbagai bencana yang sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya hutan dan terjadinya polusi udara, air dan tanah. Kondisi hutan yang memprihatinkan ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat, karena kemiskinan, dan lebih banyak karena ketamakan para penguasa dan pengusaha kayu.

Mencermati kecenderungan yang menggejala, jika tidak ada perubahan sikap dan perilaku manusia, maka akhir zaman yang disebut di dalam Alkitab bisa saja bukan sesuatu yang kita nantikan lagi dengan sukacita, tetapi menjadi sesuatu yang menakutkan karena dirampas oleh manusia dengan gaya hidup dan tindakannya yang menghancurkan alam.

Roh materialisme (memperilah materi) dan konsumerisme (perasaan tidak pernah merasa cukup) telah memacu kehancuran alam ciptaan Tuhan diperparah dengan ketidakpedulian terhadap kualitas lingkungan.

Sebagai Gereja dan orang Kristen, kita perlu berpaling kembali kepada kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya. Penerimaan demikian dapat terwujud dengan dihidupkannya penghayatan akan Mazmur ini dalam ibadah-ibadah kita. Hal ini dapat dimulai dari ibadah atau perenungan pribadi, keluarga dan persekutuan jemaat.

Tidak berhenti di situ, yang terpenting ialah bagaimana kehidupan setiap dan semua orang mencerminkan kehidupan yang menghargai ciptaan Tuhan antara lain melalui:

- Hidup dengan dasar kecukupan (bukan ketamakan) sebagaimana Tuhan menghendakinya (bnd. Bagian doa Bapa kami, “berikanlah kepada kami pada hari makanan kami yang secukupnya). Dengan demikian, menghindari diri dari materialisme dan konsumerisme.

- Menangani limbah rumah tangga dan sampah secara baik (belanja dengan keranjang, bukan menghabiskan plastik; penggunaan kertas di kantor, kampus, pelatihan, lokakarya sehemat mungkin).

- Menjaga keadaan sungai, danau, laut agar tetap baik dan bersih.

- Menanam dan merawat pohon di pekarangan rumah, pinggir jalan umum, kompleks gereja dan lain-lain.

- Mengkonsumsi makanan secukupnya dan sehat (tidak hanya yang enak), dan lain-lain

- Menggunakan kendaraan yang layak pakai (tidak mengeluarkan polusi melewati ambang batas) dan seperlunya.

- Dalam tingkat nasional dan global: semua negara hendaknya sungguh-sungguh memperhatikan keseimbangan ekologi dan ekonomi.

RENUNGAN DAN DISKUSI

(1) Apa sajakah tindakan manusia pada zaman ini yang mencerminkan pengakuan bahwa Allah pemilik bumi dan segala isinya dan mana yang menunjukkan pengabaian kepemilikan Allah atas bumi dan isinya?

(2) Upaya-upaya konkret apa yang dapat dilakukan oleh Gereja dan orang-orang Kristen merawat alam ciptaan dan milik Tuhan?

























[1] Sebelumnya pernah disampaikan sebagai Pengantar Pemahaman Alkitab (PA) pada “Pelatihan Pelatih Penanganan Bencana”, kerjasama PGI dan PGI Daerah Nias, Gunungsitoli, 12 Oktober 2004

TUGAS PANGGILAN MENGHARGAI CIPTAAN TUHAN

Firman Tuhan terpadu dalam dua volume, yaitu
dalam alam ciptaan dan dalam Kitab Suci
Thomas Aquinas (1225-1274)

Allah menuliskan firmanNya tidak saja di dalam Alkitab,
Tetapi juga pada pohon, bunga, awan dan bintang-bintang
Martin Luther (1483-1546)

I. DI MANA KITA BERADA?

Masalah krisis ekologi merupakan salah satu masalah terbesar dunia masakini. Akan tetapi, penanggulangan yang konkret masih jauh dari yang dibutuhkan. Memang, dalam tataran wacana boleh dikatakan agak memadai dengan munculnya berbagai persidangan dari tingkat nasional hingga internasional, berbagai seminar dan terbitan buku-buku (termasuk di bidang teologi) berkaitan dengan masalah krisis ekologis dan upaya penanggulangannya.

Fakta-fakta krisis ekologis dewasa ini sangat kasat mata. Misanya, hutan Indonesia rusak sekitar 2,8-3 juta hektare setiap tahun. Sedangkan hutan dunia mengalami kerusahan seluas ¾ wilayah korea setiap tahun. Akibatnya amat kentara dengan terjadinya berbagai peristiwa banjir, tanah longsor, permanasan global dan sebagainya. Khusus mengenai yang terakhir ini dapat disebutkan bahwa suhu kota Medan misalnya, saat ini terkadang sudah mencapai 33° C, yang 15-20 thn silam paling tinggi 31° C. Jadi, warming global bukan lagi sekadar wacana, ia sudah persis di depan mata.

Apa dampak warming global? Para pakar sudah dengan gamblang menjelaskan bahwa pemanasan global akan berdampak pada naiknya permukaan laut karena es di kutub bumi mencair. Sudah ada penelitian bahwa luas es di kutub utara dan selatan semakin berkurang. Dalam kaitan ini, sudah ada sinyal bahwa akan ada saatnya Jakarta Utara akan hilang ditelan laut karena naiknya permukaan laut ditambah dengan turunnya permukaan tanah karena bangunan dan penyedotan air tanah berlebihan.

Kita juga menghadapi masalah kelangkaan berbagai spesis (buaya air berkurang, buaya yang lain bertambah; burung yang terbang berkurang, burung yang hinggap bertambah –seperti patung buaya dan burung yang terbuat dari batu, semen, kayu atau gambar-gambar di buku)

Disamping itu, Jakarta ‘meraih’ Juara III sedunia di bidang polusi udara (dan juara VI terkorupsi di dunia): sebuah ‘prestasi’ yang mencengangkan. Tingginya tingkat korupsi juga menambah penderitaan alam.

II. PENYEBAB UTAMA KRISIS EKOLOGI

1. Sejak masa pencerahan, manusia mandang alam ini sebagai objek semata dan alam kehilangan ‘sakralitasnya’. Hal ini berbarengan dengan lahir dan berkembangnya industri komersial dengan mengeksploitasi alam.
2. Masalah ketamakan manusia. Gandhi dengan amat bijak mengatakan, “Bumi ini cukup menyediakan kebutuhan semua orang tetapi tidak cukup menyediakan untuk ketamakan setiap orang.” Konsumerisme dan pola hidup serba instant memberi andil besar terhadap kerusakan alam. Sebagai gambaran dapat diambil contoh kehidupan orang Amerika. Dengan 5% penduduk dunia, AS menghabiskan 40% sumber daya alam di pasar dunia setiap tahun. Kalau seluruh penduduk dunia mau hidup pada taraf kemakmuran di Amerika, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin: mengurangi jumlah penduduk global sebanyak 87,5% atau menemukan delapan bumi baru’.[2]

Memang masih banyak orang Amerika yang tergabung dalam suatu gerakan baru yang disebut dengan minimalis. Yaitu orang-orang yang menentukan untuk hidup dengan uang sedikit. Mereka membeli lebih sedikit, menghabiskan lebih sedikit, membuat lebih sedikit, dan memiliki lebih sedikit barang.[3] Celakanya, justru orang Indonesia sendiri sudah banyak ketularan gaya hidup negara maju dengan maraknya makanan dan minuman dengan kemasan disposal, padahal teknologi daur ulang kita belum mampu mengatasinya.

3. Titik berat pembangunan yang keliru. Salah satu contoh nampak melalui alokasi dana negara-negara di dunia dalam jumlah yang sangat besar untuk membiayai militer dan persenjataan yang mematikan, ketimbang sarana dan prasarana yang menopang kehidupan, seperti penghijauan, peningkatan mutu pendidikan, penanganan sampah dan limbah, sarana pemeliharaan kesehatan dan lain-lain. (Kung menyebut bahwa setiap menit negara-negara di dunia menghabiskan uang 1,8 juta US$ untuk perlengkapan tentara)[4]. Untuk konteks Indonesia perlu penelitianyang lebih komprehensif. Yang jelas, alokasi dana untuk sektor pendidikan dan kesehatan dalam APBN masih relatif rendah. Hal ini diperparah lagi karena kedua departemen ini masuh dalam peringkat atas dalam bidang korupsi.

III. TEOLOGI IKUT BERSALAH?

Lynn White Jr., seorang sejarahwan Amerika, mengatakan adanya kesalahan yang dibuat di dalam sistem ajaran Kristen mengenai manusia dan dunia, sehingga menyebabkan terangsangnya orang Kristen di masa lalu untuk mengeksploitasi dunia ini sehabis-habisnya “demi nama Tuhan”.[5]

1. Pemahaman anthroposentrik, yang menganggap manusia sebagai pusat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dipahami hanya demi dan untuk manusia. Penciptaan segala sesuatunya sebelum penciptaan manusia pada hari keenam misalnya, dipahami bahwa Allah sudah terlebih dahulu menyiapkan semuanya itu untuk manusia. Di samping itu, penafsiran akan amanat Allah kepada manusia untuk ‘menaklukkan’ (דר) dan ‘berkuasa’ (שבכ) sering dipahami sebagai hak istimewa, yang menempatkan manusia sebagai subjek dan makhluk lain sebagai objek semata.
2. Semangat Triumphalis. Misalnya, untuk memperkenalkan kuasa Kristus yang melampaui kuasa yang ada di dunia ini didemonstrasikan dengan menebang pohon yang diyakini masyarakat tradisional memiliki ‘penghuni’ dan dianggap ‘angker’. Masalahnya, pohon menjadi korban, sementara Setan terus gentayangan.
3. Liturgi gereja kurang berpihak pada kelestarian alam. Artinya, tata ibadah gereja-gereja kita masih bercorak anthroposentrik. Di samping itu, banyak nyanyian gereja yang lebih menekankan bahwa dunia ini tempat sementara, ‘lembah ratapan’, tidak tempat menetap dsb.
4. Umumnya, gereja-gereja di Indonesia belum bergerak dari diakonia karitatif dan reformatif ke diakonia transformatif, yang di dalamnya semestinya tercakup tugas panggilan dalam menghormati dan memelihara alam ciptaan Tuhan.

Apa yang disuguhkan oleh Dr Geoffrey dengan mengangkat contoh pemahaman dan perlakuan suku Aborigin (Australia) dan Suku Indian (Amerika) terhadap tanah amat relevan. Artinya, kita terpanggil untuk menghargai ‘kearifan lokal’, tanpa harus meromantisasi tradisi masa lalu.

Buku Dr Geoffrey merupakan sumbangan positif untuk berteologi dalam konteks Indonesia. Hampir semua kelompok etnis di Indonesia memiliki ‘kearifan lokal’ khususnya menyangkut penghormatan dan pemeliharaan alam. Masyarakat Batak tradisional pun sebernarnya punya kearifan berkaitan dengan alam. Sebelum misionaris datang, orang tidak boleh sembarangan bicara (cakap kotor) di Danau Toba, apalagi buang air kecil atau buang air besar sangat tabu, karena ‘penghuninya’ bisa marah. Sesudah kekristenan masuk ke tanah Batak, jangankan buang air besar, ‘buang air besar-besaran’ pun (=limbah) ke danau seolah tidak ada masalah.

Menyebut contoh lain, pada era Suharto, pernah sekelompok suku Dayak akan direlokasi atas nama pembangunan. Penduduk setempat berkata, “kami tidak tinggal di hutan, kami adalah hutan”. Ini menunjukkan pemahaman dan sikap kedekatan bahkan kesatuan mereka dengan alam.

IV. REKOMENDASI

1. Kepada Gereja dan Masyarakat

(1) Gereja-gereja perlu didorong ke arah pelayanan yang berorientasi ‘sadar lingkungan’ melalui kurikulum sidi, seminar, khotbah, dan keterlibatan langsung menghijaukan komplek gereja, komplek hunian warga jemaat dan sebagainya.

(2) Warga jemaat dan masyarakat perlu mengembangkan pola hidup atas dasar ‘kebutuhan’ bukan ‘keinginan’. Yang menggembirakan dalam hal ini adalah sudah banyaknya orang yang mengembangkan ‘pola hidup minimalis’ (modest life style) dengan rumah kecil, sederhana, sedikit barang-barang dan sebagainya. Tetapi, masih ada juga yang berlomba membangun rumah yang besar-besar padahal penghuninya sangat sedikit.

2. Kepada Lembaga Pendidikan Teologi

STT kiranya mau dan mampu mengembangkan dan merumuskan teologi yang sungguh-sungguh berpihak pada penghargaan dan penghormatan kepada alam ciptaan Tuhan. Idealnya, dibutuhkan satu mata kuliah “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan”, sebagaimana sejak lama digumuli oleh DGD. Sambil menunggu kemungkinan itu, dapat disebut beberapa hal yang perlu mendapat perhatian beberapa bidang studi untuk dibahas dalam perkuliahan dan (jika memungkinkan) dalam bentuk buku.

Perjanjian Lama

(1) Menjernihkan pengertian ‘rada’ dan ‘kabasy’ (Kej. 1). Salah satu pertimbangan yang ditawarkan oleh Singgih dalam hal ini adalah menyangkut konteksnya dimana manusia masih vegetarian.[6]
(2) Keberadaan manusia sebagai Imago Dei (yang hanya dimiliki oleh manusia) lebih merupakan tanggung jawab istimewa ketimbang hak istimewa. Manusia sebagai gambar Allah terpanggil seirama dengan Allah yang mengasihi dan memelihara ciptaanNya.
(3) Perlu ditekankan kepemilikan Allah atas bumi dan segala isinya (Mzm 24:1).
(4) Dibutuhkan suatu kajian berkaitan dengan ‘ketanahan’ manusia (dan mungkin juga ‘kemanusiaan’ tanah). Sebab, manusia diciptakan dari tanah. Dapatkah disebutkan bahwa tanah adalah ‘ibu’ manusia? Jika demikian, masakan manusia berlaku sewenang-wenang terhadap ‘ibunya’ sendiri.

Perjanjian Baru

(1) Apa yang dimaksud dengan ‘begitu besar kasih Allah akan dunia ini? Apakah Allah menyelamatkan bukan saja manusia tetapi juga ciptaanNya?
(2) Apa yang dimaksud dengan amanat Yesus ‘Beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk (Mrk. 16:15)
(3) Apa yang implikasi teologis bagian doa Bapa kami “berikanlah kami kepada pada hari ini makanan kami yang secukupnya” terhadap pemeliharaan alam ciptaan? (Studi yang pernah saya lakukan terhadap bagian ini, terjemahan yang lebih tepat dari bahasa Yunani adalah “berilakanlah kepada kami yang kami butuhkan untuk kehidupan’.[7]

Historika dan Teologi Sistematika

(1) Melihat warisan Lutheran sebagaimana terdapat dalam Buku Konkord. Di antaranya, Luther melihat implikasi ekologis dari hukum keempat terhadap pemeliharaan alam ciptaan.
(2) Membahas hasil-hasil pergumulan dan perumusan DGD, LWF, CCA, ELCA, PGI tentang masalah ekologi dalam berbagai sidangnya dalam kuliah-kuliah historika dan teologi sistematika.
(3) Melakukan penelitian terhadap ‘kearifan lokal’, belajar dari apa yang dikemukakan oleh Dr Geoffrey.
(4) Menggunakan hasil-hasil penelitian lembaga-lembaga pemerhati lingkungan sebagai bahan dalam merumuskan ajaran etika ekologis kristiani (Majalah Tempo, dala setiap edisi memuat satu kolom khusus tentang ‘Lingkungan Hidup’).

Teologi Praksis

(1) Mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh C.S. Song[8] yang mendasarkan ‘misi’ tidak saja dari Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat 28) tetapi dari Penciptaan (Kej. 1). Kalau Allah memelihara ciptaanNya, maka misi Gereja seharusnya juga memelihara ciptaan.

(2) Perlunya dalam mata kuliah Seminar Praksis mahasiswa menulis misalnya tentang “Program Gereja dalam Pemeliharaan Lingkungan”.

Ilmu Agama

Penganut agama manakah di dunia ini yang paling santun terhadap alam? Hal ini perlu, agar penganut agama yang satu dapat belajar dari penganut agama lain.

Di samping perkuliahan, aktivitas berkampus hendaknya ‘pro pelestarian alam’. Menyebut dua contoh kecil. Pertama, tugas kuliah mahasiswa tanpa sampul plastik. Kalau 400 mahasiswa dengan masing-masing satu tugas kuliah untuk 9 mata kuliah semester menggunakan sampul plastik dengan harga masing-masing Rp. 2000, maka dalam satu semester mahasiswa STT HKBP telah membuang Rp. 7.200.000 hanya untuk sampul tugas kuliah –yang akan menjadi sampah. Biaya mahal untuk menambah sampah! Kedua, daftar hadir kuliah tanpa tanda tangan mahasiswa. Semester ini ada 130 kelas dengan dua lembar setiap pertemuan dikali 15 tatap muka = 3900 lembar kertas terbuang. Padahal, kalau daftar hadir dipanggil dosen ybs. kertas yang terpakai hanya 130 lembar dan tugas pegawai di kantor lebih ringan. Yang lainnya, masih dapat kita hitung dan pertimbangkan…..

V. PENUTUP

Secara ateologis, ‘akhir zaman’ adalah sesuatu yang dinantikan oleh umat manusia. Akan tetapi, mencermati kecenderungan yang ada, bisa saja ‘akhir zaman’ tiba sebelum waktunya karena ‘dirampas’ oleh manusia sebagai akibat dari pengrusakan alam ciptaan Tuhan. Gereja dan orang Kristen serta seluruh umat manusia terpanggil merawat ciptaan Tuhan.

[1] Disampaikan sebagai bandingan ceramah Dr Geoffrey R. Lilburne dalam ‘diskusi teologi’ Dosen STT HKBP, Pematangsiantar, 02 Desember 2005
[2] Philipus Tule dan Wilhelmus Djulei (eds.), Agama-agama Kerabat Alam Semesta, Ende: Nusa Indah
[3] David Niven, Rahasia Orang-orang Bahagia, Semarang: Dahara Prize, 2005, hlm. 294
[4] hans Kung, Global Responsibility. In Search of a New World Ethic, New York: Croassroad
[5] Dikutip oleh E.G. Singgih, “Dasar Teologis dari Pemahaman Mengenai Keutuhan Ciptaan:, dalam Th. Sumartana dkk (Peny.), Terbit Sepucuk Taruk. Teologi Kehidupan 60 tahun Dr. Liem Khiem Yang, Jakarta:P3M STTJ dan balitbang PGI, hlm.245. Hal yang sama juga disebut oleh Geoffrey R. Lilburne, A Sense of Place. A Christian Theology of the Land, Nashville: Abindgon Press, 1989, hlm. 24
[6] Penjelasan selengkapnya lihat Ibid.
[7] Dalam tulisan yang diminta oleh Panitia Buku Ulang tahun Lothar Schreiner.
[8] Dikutip oleh David J. Bosch, Transforming Mission. Paradigm Shift in Theology of Mission, Maryknoll: Orbis dan juga Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner Dalam Konteks Indonesia, Yogyakarta: Kanisius